PURA LUHUR GIRI ARJUNO

Tentang Pura Luhur Giri Arjuno

Salah satu wisata Indonesia yang merupakan tempat ibadah pemeluk agama Hindu terbesar yang dimiliki Kota Batu. Pemandangan disekeliling pura sangat indah. Tidak kalah elok dengan pura lain seperti Pura Ismoyo Jati yang berlatar pantai. Pura ini berlatar gunung nan sejuk, sangat nyaman bila melakukan meditasi di sini.

Bagi pengunjung yang bukan pemeluk agama Hindu juga diijinkan jika ingin melihat-lihat sekeliling pura. Namun ada baiknya diperhatikan, tempat ini adalah tempat peribadahan. Jangan sampai pengunjung tidak menghormati umat Hindu yang sedang beribadah. Juga ada baiknya, saat merencanakan berkunjung ke Pura Luhur Giri Arjuno hendaknya melakukan izin dan memperhatikan larangan yang disampaikan penjaga pura.

Luas pura ini sendiri kurang lebih 6 hektare. Kompleks pura dipenuhi oleh berbagai bangunan bale yang dikhususkan untuk ritual tersendiri. Yang jelas, pengunjung akan memiliki banyak kesempatan untuk berburu foto di sini.


Lokasi

Pura Giri Arjuno, terletak di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur. Berada di kawasan lereng barat gunung membuat hawa dingin dan udara sejuk semakin melengkapi daya tarik tersendiri Pura Luhur Giri Arjuno ini. Selain itu, di sekitar Pura Luhur Giri Arjuno ini terdapat kebun apel dan sayuran nan hijau.


Akses Jalan

Untuk mencapai pura ini, Anda hanya butuh menempuh jarak 12 km dari Alun-alun Kota Batu dengan menggunakan kendaraan bermotor. Anda cukup mengambil rute menuju Dusun Junggo dan terus menuju utara hingga memasuki gapura pura di Desa Tulungrejo.

Setelah melewati jalanan menanjak sepanjang 3 km, akan terlihat bangunan Pura Luhur Giri Arjuno pada sisi sebelah kiri jalan.

Perjalanan ke pura ini cukup lama karena lumayan jauh dari pusat Alun-Alun Kota Batu. Untungnya akses jalan menuju pura cukup baik jadi jauhnya tidak terasa. Dalam perjalanan ke Pura Luhur Giri Arjuno, pengunjung melewati perkebunan jeruk, apel dan ladang sayur beserta para petani yang sedang bercocok tanam. Semakin mendekati lokasi, hawa dingin semakin terasa.

Akses ke pura, bisa ditempuh menggunakan kendaraan kecil, sebab jalan yang lika-liku dan sempit. Pengunjung bisa menggunakan kendaraan angkutan desa yang disediakan oleh pemangku pura . Bila ke sana jangan lupa membawa jaket. Sebab kalo malam karena suhu disana mencapai 10 derajat Celcius


Jam Oprasional

Lokasi ini terbuka 24 jam sehari. Hal ni karena sebagai situs keagamaan yang melayani kebutuhan persembahyangan umat Hindu. Tempat ini terbuka untuk persembahyangan malam dan kegiatan mekemit (sembahyang sepanjang malam di pura).


Harga Tiket

Untuk mengunjungi lokasi pura Giri Arjuno, pengunjung tidak dikenakan tiket. Hal ini karena tempat ini bukan didedikasikan sebagai tempat wisata.


Fasilitas

Pure ini sebenarnya tidak dikhususkan untuk wisata. Namun sepenuhnya ditujukan untuk tujuan peribadatan agama Hindu. Namun demikian, pengunjung yang datang dapat juga memanfaatkan fasilitas umum yang niat awalnya dibangun untuk umat pemedek (yang mau sembahyang).

Fasilitas yang tersedia meliputi, warung tempat makan, Area parkir yang memadai, Hotel dan penginapan, serta Toilet.


Kisah Mistis

Saat awal pendirian Pura, terjadi sedikit konflik antara kaum muda dan kaum tua. Kaum muda menghendaki pembangunan Pura di sisi Utara dekat Jembatan Krecek. Lokasi ini berada di pertengahan perkebunan Tegal Sari atas. Pemilihan lokasi itu atas pertimbangan jarak tempuh warga menuju Pura. Sedangkan kaum sesepuh menghendaki lokasi di atas Kampung Tegal Sari. Lokasi itu berada di sekitar Pedepokan Hyang Sarip.

khirnya warga mengambil jalan tengah. Solusi diambil dengan cara memilih tanah lokasi berdasarkan arahan orang pintar atau paranormal yang ada di Bali. Saat itu, diambillah contoh tanah dari tiga lokasi yang dipilih masing-masing kelompok. Conoth tanah dikirim kepada “orang pintar” di Bali.

Dari hasil lau spiritual tokoh di Bali itu, akhirnya tanah di sekitar padepokan Hyang Sarip terpilih sebagai lokasi. Ini didasarkan pada energi positif yang dipancarkan oleh tanah tersebut. Selain itu, warga Hindu setempat percaya di lokasi itu terkubur Candi Pawon. Candi peninggalan prajurit Majapahit, yang sampai sekarang masih misterius keberadaannya.

Pura Luhur Giri Arjuno sendiri, diusung oleh 80 Kepala Keluarga yang beragama Hindu Dharma. Sebelum Pura ini berdiri, dusun Junggo sudah memiliki Pura Indrajaya dan satu sanggar pemujan. Hari Raya Galungan dan Kuningan dilaksanakan di Pura Indrajaya, sementara Hari Raya Nyepi, Siwaratri, dan Saraswati dilaksanakan di Pura Luhur Giri Arjuno.

Di lokasi berdirinya sekarang, di dekat Pura Luhur Giri Arjuno juga berdiri padepokan Pelinggih Hyang Sarip. Saat ini, Pelinggih Hyang Sarip berada tepat di depan Pura. Warga menjaga tradisi, bahwa sebelum memasuki area Pura, setiap yang masuk, diharuskan untuk meminta ijin terlebih dahulu di Pelinggih tersebut.


Tips

Berwisata di tempat peribadatan agama tertentu, tentu saja berbeda dengan berwisata di objek yang memang sengaja di desain sebagai tempat wisata. Ada beberapa batasan-batasan dan ketentuan yang mesti diperhatikan sesuai dengan aturan yang dibuat pengelola tempat peribadatan. Demikian juga halnya dengan saat berwisata di pura Luhur Giri Arjuno ini.

Beberapa tips yang mesti diperhatikan antara lain:

o Pakailah pakaian yang sopan

o Perkirakan cuaca sebelum berkunjung

o Siapkan pakaian hangat karena cuaca daerah ini cukup dingin. Dalam musim kemarau suhu bisa mencapai 10 Celcius.

o Jangan buang sampah sembarangan

o Jaga stamina, dan tetap berhati-hati


Wonderful Indonesia