GUNUNG BROMO

Tentang Gunung Bromo

Salah satu wisata Indonesia yang

memiliki ketinggian 2.329 meter di atas permukaan laut dan berada dalam empat wilayah kabupaten, yakni Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Lumajang, dan Kabupaten Malang. Gunung Bromo terkenal sebagai objek wisata utama di Jawa Timur dengan tiket masuk yang cukup terjangkau dari Rp. 29.000 – Rp. 320.000. Sebagai sebuah Objek Wisata, Bromo menjadi menarik karena statusnya sebagai gunung berapi yang masih aktif. Gunung Bromo termasuk dalam kawasan Taman Nasional Tengger Semeru. Bentuk tubuh Gunung Bromo bertautan antara lembah dan ngarai dengan kaldera atau lautan pasir seluas sekitar 10 kilometer persegi. Ia mempunyai sebuah kawah dengan garis tengah ± 800 meter (utara-selatan) dan ± 600 meter (timur-barat). Sedangkan daerah bahayanya berupa lingkaran dengan jari-jari 4 km dari pusat kawah Bromo.


Harga Tiket

Tarif masuk ke Gunung Bromo per orang Rp 29.000 hari kerja per hari, hari libur Rp 34.000 per hari. Untuk wisatawan mancanegara hari biasa Rp 220.000 dan hari libur Rp 320.000 per hari. Sementara untuk naik kendaraan Jeep sekitar Rp 700.000- Rp 800.000 tergantung penawaran.


Sejarah Gunung Bromo

Pada zaman dahulu kala ketika kerajaan majapahit mengalami serangan dari berbagai daerah sehingga penduduk pribumi kerajaan majapahit melarikan diri untuk mencari tempat tinggal baru demi keselamatan hidup mereka dan pada akhirnya mereka terpisah menjadi 2 bagian yaitu pertama menuju kawasan gunung bromo dan yang kedua menuju Pulau Bali. Karena berasal dari lokasi yang sama sehingga ke 2 tempat ini sampai sekarang mempunyai kesamaan akan budaya, agama, adat istiadat yaitu menganut kepercayaan agama Hindu.

Masyarakat Suku Tengger yang ada di kawasan Gunung Bromo berasal dari Legenda Roro Anteng dan Joko Seger yang diyakini sebagai asal usul nama Tengger itu. “Teng” akhiran nama Roro An-”teng” dan “ger” akhiran nama dari Joko Se-”ger” dan Gunung Bromo sendiri dipercaya sebagai gunung suci. Mereka menyebutnya sebagai Gunung Brahma. orang Jawa kemudian menyebutnya Gunung Bromo.

Asal usul Suku Tengger berasal dari cerita rakyat atau legenda ” Joko Seger “ Dan “Rara Anteng” .Dari sebuah pertapaan, istri seorang Brahmana / Pandhita baru saja melahirkan seorang putra yang fisiknya sangat bugar dengan tangisan yang sangat keras ketika lahir, dan karenanya bayi tersebut diberi nama ” Joko Seger “. Di tempat sekitar Gunung Pananjakan, pada waktu itu ada seorang anak perempuan yang lahir dari titisan dewa. Wajahnya cantik dan elok. Dia satu-satunya anak yang paling cantik di tempat itu. Ketika dilahirkan, anak itu tidak layaknya bayi lahir. Ia diam, tidak menangis sewaktu pertama kali menghirup udara. Bayi itu begitu tenang, lahir tanpa menangis dari rahim ibunya. Maka oleh orang tuanya, bayi itu dinamai “Rara Anteng”.

Dari hari ke hari tubuh Rara Anteng tumbuh menjadi besar. Garis-garis kecantikan nampak jelas diwajahnya. Termasyurlah Rara Anteng sampai ke berbagai tempat. Banyak putera raja melamarnya. Namun pinangan itu ditolaknya, karena Rara Anteng sudah terpikat hatinya kepada Joko Seger. Suatu hari Rara Anteng dipinang oleh seorang bajak yang terkenal sakti dan kuat. Bajak tersebut terkenal sangat jahat. Rara Anteng yang terkenal halus perasaannya tidak berani menolak begitu saja kepada pelamar yang sakti. Maka ia minta supaya dibuatkan lautan di tengah-tengah gunung. Dengan permintaan yang aneh, dianggapnya pelamar sakti itu tidak akan memenuhi permintaannya. Lautan yang diminta itu harus dibuat dalam waktu satu malam, yaitu diawali saat matahari terbenam hingga selesai ketika matahari terbit. Disanggupinya permintaan Rara Anteng tersebut.

Pelamar sakti tadi memulai mengerjakan lautan dengan alat sebuah tempurung (batok kelapa) dan pekerjaan itu hampir selesai. Melihat kenyataan demikian, hati Rara Anteng mulai gelisah. Bagaimana cara menggagalkan lautan yang sedang dikerjakan oleh Bajak itu? Rara Anteng merenungi nasibnya, ia tidak bisa hidup bersuamikan orang yang tidak ia cintai. Kemudian ia berusaha menenangkan dirinya. Tiba-tiba timbul niat untuk menggagalkan pekerjaan Bajak itu. Rara Anteng mulai menumbuk padi di tengah malam. Pelan-pelan suara tumbukan dan gesekan alu membangunkan ayam-ayam yang sedang tidur. Kokok ayam pun mulai bersahutan, seolah-olah fajar telah tiba, tetapi penduduk belum mulai dengan kegiatan pagi.

Bajak mendengar ayam-ayam berkokok, tetapi benang putih disebelah timur belum juga nampak. Berarti fajar datang sebelum waktunya. Sesudah itu dia merenungi nasib sialnya. Rasa kesal dan marah dicampur emosi dan pada akhirnya Tempurung (Batok kelapa) yang dipakai sebagai alat mengeruk pasir itu dilemparkannya dan jatuh tertelungkup di samping Gunung Bromo dan berubah menjadi sebuah gunung yang sampai sekarang dinamakan Gunung Batok.

Dengan kegagalan Bajak membuat lautan di tengah-tengah Gunung Bromo, suka citalah hati Rara Anteng. Ia melanjutkan hubungan dengan kekasihnya, Joko Seger. Kemudian hari Rara Anteng dan Joko Seger menjadi pasangan suami istri yang bahagia, karena keduanya saling mengasihi dan mencintai. Pasangan Rara Anteng dan Jaka Seger membangun pemukiman dan kemudian memerintah di kawasan Tengger dengan sebutan Purbowasesa Mangkurat Ing Tengger, maksudnya “Penguasa Tengger Yang Budiman”. Nama Tengger diambil dari akhir suku kata nama Rara Anteng dan Jaka Seger. Kata Tengger berarti juga Tenggering Budi Luhur atau pengenalan moral tinggi, simbol perdamaian abadi.


Misteri Gunung Bromo

Dari waktu ke waktu masyarakat Tengger hidup makmur dan damai, namun sang penguasa tidaklah merasa bahagia, karena setelah beberapa lama pasangan Rara Anteng dan Jaka Tengger berumahtangga belum juga dikaruniai keturunan. Kemudian diputuskanlah untuk naik ke puncak gunung Bromo untuk bersemedi dengan penuh kepercayaan kepada Yang Maha Kuasa agar karuniai keturunan. Tiba-tiba ada suara gaib yang mengatakan bahwa semedi mereka akan terkabul namun dengan syarat bila telah mendapatkan keturunan, anak yang bungsu harus dikorbankan ke kawah Gunung Bromo, Pasangan Roro Anteng dan Jaka Seger menyanggupinya dan kemudian didapatkannya 25 orang putra-putri, namun naluri orang tua tetaplah tidak tega bila kehilangan putra-putrinya. Pendek kata pasangan Rara Anteng dan Jaka Seger ingkar janji, Dewa menjadi marah dengan mengancam akan menimpakan malapetaka, kemudian terjadilah prahara keadaan menjadi gelap gulita kawah Gunung Bromo menyemburkan api.

Kusuma anak bungsunya lenyap dari pandangan terjilat api dan masuk ke kawah Bromo, bersamaan hilangnya Kesuma terdengarlah suara gaib :”Saudara-saudaraku yang kucintai, aku telah dikorbankan oleh orang tua kita dan Hyang Widi menyelamatkan kalian semua. Hiduplah damai dan tenteram, sembahlah Hyang Widi. Aku ingatkan agar kalian setiap bulan Kasada pada hari ke-14 mengadakan sesaji yang berupa hasil bumi dan di persambahkan kepada Hyang Widi asa di kawah Gunung Bromo. sampai sekarang kebiasaan ini diikuti secara turun temurun oleh masyarakat Tengger dan setiap tahun diadakan upacara Kasada di Poten lautan pasir dan kawah Gunung Bromo.


Larangan di Gunung Bromo

Gunung Bromo begitu mempesona sehingga banyak para wisatawan dari berbagai negara tertarik untuk bisa menikmati keindahan alamnya. Namun untuk Anda yang akan berlibur ke gunung bromo harus tahu larangan apa saja yang harus ditaati ketika pergi ke bromo.

• Dilarang Melangkahi Pawon

Menurut kepercayaan masyarakat Tengger, seseorang dilarang melangkahi pawon. Pawon sendiri merupakan alat untuk memasak dalam budaya Suku Tengger. Jika seseorang melangkahi pawon, dia diyakini akan kehilangan jodohnya atau jodohnya akan direbut oleh orang lain.

• Membawa pulang batu bata dari Gunung Bromo

Larangan ini juga patut kamu ketahui karena jika tidak, itu bisa berakibat buruk pada diri kamu. Ketika kamu berwisata ke Gunung Bromo, jangan coba-coba membawa pulang batu bata dari tempat tersebut. Jika kamu melakukannya, ‘penghuni Bromo’ diyakini akan marah dan dapat membawa nasib buruk bagimu.

• Kencing menghadap Gunung Bromo

Meski terdengar absurd, kamu nggak boleh buang air menghadap ke arah Gunung Bromo. Hal ini dipercaya akan membawa nasib buruk bagi pelakunya, karena aktivitas itu dinilai melecehkan ‘penghuni’ Gunung Bromo.

• Bertindak atau berkata kotor saat masuk Pura

Datang ke Bromo belum lengkap jika belum mampir ke Pura Luhur Poten. Tapi ingat, jika kamu ingin berkunjung ke pura ini, dilarang keras untuk melakukan tindakan ataupun bertutur yang nggak pantas.

• Wanita yang sedang haid dilarang masuk Pura

Selain tidak diperkenankan untuk bertindak, berbicara, atau berpikir hal yang nggak pantas di dalam pura, wanita yang sedang haid juga dilarang untuk masuk ke area suci tersebut. Jadi, jika kamu sedang dalam kondisi tersebut, sebaiknya jangan memaksakan diri untuk masuk.


Keindahan Gunung Bromo

Melihat keindahan sang surya terbit dari ufuk timur di Gunung Bromo secara perlahan mungkin menjadi satu anugrah yang tak terhingga indahnya. Paduan warna kuning, oranye, hitam dan biru yang dihasilkan oleh fenomena alam ini sungguh menjadi pemandangan menarik yang tersaji bagi mata kita yang melihatnya.

Melakukan perjalanan menuju Gunung Bromo, kaki kita akan disambut kawah pasir yang terbentang sepanjang kawasan salah satu gunung di Jawa Timur ini. Bila kita melakukan perjalanan menuju Bromo di pagi hari, kita akan disajikan warna-warna indah berasal dari pasir yang terkena pantulan sinar matahari. Pasir-pasir disini juga seolah berbisik saat tersapu oleh tiupan angin yang berhembus tenang saat pagi menyapa.

Sambil berjalan, kita bisa melihat beberapa bangunan yang berdiri di sekitar kawasan ini. Salah satunya adalah bangunan Poten. Bangunan kokoh yang berdiri di tengah lautan pasir ini menjadi tempat beribadah yang digunakan masyarakat Suku Tengger. Arsitektur bergaya Hindu Bali sangat melekat pada bangunan ini. Di setiap gerang pintunya di jaga patung dengan bentuk singa yang terlihat seperti sedang menyeringai. Patung-patung ini dimaksudkan untuk mengusir roh-roh jahat yang akan menggangu kawasan Gunung Bromo

Berada di Kawasan Gunung Bromo dan menyaksikan keindahan alam yang disajikan disini memang menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Pasir yang eksotis, sunrise yang begitu indah dan berinteraksi dengan masyarakat Suku Tengger tentunya membuat perjalanan menelusuri Kawasan Gunung Bromo terasa begitu menyenangkan.

Selain itu terdapat beberapa spot foto yang sangat disayangkan jika dilewatkan karena keindahannya yang memang sangat luar biasa. Seperti

• Kawah Bromo

Yang satu ini sih merupakan spot wajib yang harus kamu abadikan ketika berwisata ke kawasan Bromo. Sebelum mencapai puncak kawah, kamu harus terlebih dulu menaiki ratusan anak tangga. Ketika sampai di atas kawah, kamu bisa melihat Pasir Berbisik dan Pura Luhur Poten dari ketinggian.

• Penanjakan 1 dan 2

Biasanya Penanjakan 1 akan ramai didatangi oleh orang-orang yang hendak berfoto ketika menjelang sunrise hingga hanya menyisakan kabut-kabut tipis. Sedangkan Penanjakan 2 berada di atasnya, dari spot ini kamu bisa berfoto dengan latar Gunung Batok.

• Pasir Berbisik

Saat menuju Penanjakan 1 dan 2, kamu akan melewati hamparan pasir yang luas. Nah, biasanya waktu yang tepat untuk berfoto di sini adalah selepas kamu menikmati sunrise di area Penanjakan.

• Bukit Teletubbies

Bukit ini sebenarnya hanyalah padang savanna berwarna hijau yang berada di kawasan Bromo. Karena menyerupai bukit yang ada di serial 'teletubbies', jadi lah disebut dengan nama Bukit Teletubbies.

• Puncak B29

Tak jarang kebanyakan orang lebih banyak memilih Penanjakan 1 atau Penanjakan 2 sebagai spot foto ketika berkunjung ke kawasan Bromo. Padahal, kamu juga bisa memilih Puncak B29 untuk tempat berfoto. Memang sih, rute menuju bukit ini lebih berliku, sebab kamu harus melewati rute menuju lereng Gunung Semeru. Tapi, spot ini bisa dibilang lebih sepi dari pada Penanjakan 1 dan 2 loh. Dari puncak ini, kamu bisa melihat lanskap Gunung Semeru serta kawasan Bromo dari ketinggian.

• Pura Luhur Poten

Pura Luhur Poten merupakan pura tempat suku Tengger melakukan pusat kegiatannya. Selain menjadi tempat ibadah, bagian depan pura ini juga kerap dijadikan spot foto oleh para wisatawan yang datang ke kawasan Bromo.


Rute perjalanan dari Surabaya

• Menggunakan Kereta

Surabaya Kamu bisa naik kereta api dari Surabaya ke Probolinggo. Untuk tarif kereta dari Surabaya ke Probolinggo yang murah adalah menggunakan kereta Probowangi dengan tarif Rp 27.000, Dari Stasiun Probolinggo bisa naik angkutan kota ke Terminal Bus Bayuangga Probolinggo untuk ganti angkutan desa seperti mobil elf ke arah Cemoro Lawang, ke arah Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura sebagai titik masuk ke wilayah Gunung Bromo. Ada baiknya, Kamu tiba di Terminal Bayuangga sebelum sore hari. Karena semakin sore, akses kendaraan akan semakin sulit.

• Dari Bandara Juanda

Kamu bisa memilih penerbangan Pesawat ke Bandara Juanda, Surabaya. Nantinya, dari Bandara Juanda, Kamu bisa pergi ke Terminal Bungurasih dengan menggunakan Damri dan melanjutkan perjalanan ke Terminal Arjosari dengan bus. Tiba di Terminal Arjosari, carilah angkutan umum menuju Terminal Bus Bayuangga Probolinggo dan berganti angkutan desa seperti mobil elf ke Cemoro Lawang, Ngadisari.

• Jalur darat

Apabila Kamu ingin naik bus eksekutif langsung ke Probolinggo, ada pilihan beberapa bus eksekutif di Terminal Bus Lebakbulus Jakarta jurusan Jember atau Banyuwangi. Kamu cukup beli tiket jurusan Jakarta-Probolinggo saja. Selanjutnya nanti berganti angkutan desa ke Cemoro Lawang Ngadisari


Wonderful Indonesia