CANDI SINGASARI

Tentang Candi Singasari

Salah satu wisata Indonesia yang bersejarah dari Kerajaan Singasari berlokasi di Desa Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Indonesia, sekitar 10 km dari Kota Malang. Candi ini berada pada lembah di antara Pegunungan Tengger dan Gunung Arjuna pada ketinggian 512m di atas permukaan laut.

Cara pembuatan Candi Singasari ini menggunakan sistem menumpuk batu andesit hingga ketinggian tertentu selanjutnya diteruskan dengan mengukir dari atas baru turun ke bawah.


Penemuan

Candi Singasari ditemukan oleh Nicolaus Engelhard pada tahun 1803. Uniknya candi ini sempat menarik perhatian Th. Stamford Raffles yang mengunjunginya pada tahun 1855. Saat itu disebutkan bahwa candi tersebut berada di tengah hutan jati yang baru dibabat pada tahun 1820.

Blom berpendapat bahwa Candi Singosari ini terletak pada sebuah kompleks yang luas dengan delapan candi dan arca-arca tersebar.


Sejarah

Berdasarkan penyebutannya pada Kitab Negarakertagama pupuh 37:7 dan 38:3 serta Prasasti Gajah Mada bertanggal 1351 M yang terletak di halaman kompleks candi, candi ini merupakan tempat “pendharmaan” bagi raja Singhasari terakhir, Kertanegara, yang mangkat pada tahun 1292 akibat istananya diserang tentara Gelang-gelang yang dipimpin Jayakatwang. Kuat dugaan, Candi ini tidak pernah selesai dibangun.

Kapan tepatnya Candi Singhasari didirikan masih belum diketahui, namun para ahli purbakala memperkirakan candi ini dibangun sekitar tahun 1300 M, sebagai persembahan untuk menghormati Raja Kertanegara dari Singhasari. Setidaknya ada dua candi di Jawa Timur yang dibangun untuk menghormati Raja Kertanegara, yaitu Candi Jawi dan Candi Singhasari. Sebagaimana halnya Candi Jawi, Candi Singhasari juga merupakan candi Syiwa. Hal ini terlihat dari adanya beberapa arca Syiwa di halaman Candi.


Menurut Negarakertagam

Berdasarkan penyebutannya pada Kitab Negarakertagama pupuh 37:7 dan 38:3 serta Prasasti Gajah Mada bertanggal 1351 M yang terletak di halaman kompleks candi, candi ini merupakan tempat "pendharmaan" bagi raja Singasari terakhir, Kertanegara, yang mangkat pada tahun 1292 akibat istananya diserang tentara Gelang-gelang yang dipimpin Jayakatwang. Kuat dugaan, Candi ini tidak pernah selesai dibangun.

Kapan tepatnya Candi Singasari didirikan masih belum diketahui, tetapi para ahli purbakala memperkirakan candi ini dibangun sekitar tahun 1300 M, sebagai persembahan untuk menghormati Raja Kertanegara dari Singasari. Setidaknya ada dua candi di Jawa Timur yang dibangun untuk menghormati Raja Kertanegara, yaitu Candi Jawi dan Candi Singasari. Sebagaimana halnya Candi Jawi, Candi Singasari juga merupakan Candi Siwa. Hal ini terlihat dari adanya beberapa arca Siwa di halaman Candi.


Struktur dan Kegunaan

Komplek percandian menempati areal 200 m × 400 m dan terdiri dari beberapa candi. Candi yang juga dikenal dengan nama Candi Cungkup atau Candi Menara ini, menunjukkan bahwa Candi Singasari adalah candi yang tertinggi pada masanya, setidaknya dibandingkan dengan candi lain di sekelilingnya. Namun saat ini di kawasan Singasari hanya Candi Singasari yang masih tersisa, sedangkan candi lainnya telah lenyap tak berbekas.

Bangunan Candi Singasari terletak di tengah halaman. Tubuh candi berdiri di atas batur kaki setinggi sekitar 1,5 m, tanpa hiasan atau relief pada kaki candi. Tangga naik ke selasar di kaki candi tidak diapit oleh pipi tangga dengan hiasan makara seperti yang terdapat pada candi-candi lain. Pintu masuk ke ruangan di tengah tubuh candi menghadap ke selatan, terletak pada sisi depan bilik penampil (bilik kecil yang menjorok ke depan). Pintu masuk ini terlihat sederhana tanpa bingkai berhiaskan pahatan. Di atas ambang pintu terdapat pahatan kepala Kala yang juga sangat sederhana pahatannya. Adanya beberapa pahatan dan relief yang sangat sederhana menimbulkan dugaan bahwa pembangunan Candi Singasari belum sepenuhnya terselesaikan.

Di kiri dan kanan pintu bilik pintu, agak ke belakang, terdapat relung tempat arca. Ambang relung juga tanpa bingkai dan hiasan kepala Kala. Relung serupa juga terdapat di ketiga sisi lain tubuh Candi Singasari. Ukuran relung lebih besar, dilengkapi dengan bilik penampil dan di atas ambangnya terdapat hiasan kepala Kala yang sederhana. Di tengah ruangan utama terdapat yoni yang sudah rusak bagian atasnya. Pada kaki yoni juga tidak terdapat pahatan apapun.

Sepintas bangunan Candi Singasari terlihat seolah bersusun dua, karena bagian bawah atap candi berbentuk persegi, menyerupai ruangan kecil dengan relung di masing-masing sisi. Tampaknya relung-relung tersebut semula berisi arca, tetapi saat ini kempatnya dalam keadaan kosong. Di atas setiap ambang 'pintu' relung terdapat hiasan kepala Kala dengan pahatan yang lebih rumit dibandingkan dengan yang ada di atas ambang pintu masuk dan relung di tubuh candi. Puncak atap sendiri berbentuk meru bersusun, makin ke atas makin mengecil. Sebagian puncak atap terlihat sudah runtuh.[3] Di bagian dalam Candi Singosari terdapat sebuah ruangan yang digunakan untuk menempatkan sebuah arca Lingga dan Yoni. Sedangkan pada tiap sisinya terdapat arca Ganesha di sebelah timur, arca Resi Agastya di sisi selatan, dan arca Durga di sisi sebelah utara, sayang arca-arca yang ada hanya tinggal arca Agastya, sedangkan yang lain sudah tidak ada.

Di dekat Candi Singasari ada lapangan yang dikenal sebagai "alun-alun" yang terdapat sepasang penjaga pintu (Dwarapala) besar.


Arca Arca

Di sisi barat laut komplek terdapat sepasang arca raksasa besar (tinggi hampir 4 m, disebut Dwarapala) dan posisi gada menghadap ke bawah, ini menunjukkan meskipun penjaganya raksasa tetapi masih ada rasa kasih sayang terhadap semua makhluk hidup dan ungkapan selamat datang bagi semuanya. Dan posisi arca ini hanya ada di Singasari, tidak ada di tempat ataupun kerajaan lainnya. Dan di dekatnya arca Dwarapala terdapat alun-alun. Hal ini menimbulkan dugaan bahwa candi terletak di kompleks pusat kerajaan. Letak candi Singasari yang dekat dengan kedua arca Dwarapala menjadi menarik ketika dikaitkan dengan ajaran Siwa yang mengatakan bahwa dewa Siwa bersemayam di puncak Kailasa dalam wujud lingga, batas Timur terdapat gerbang dengan Ganesha (atau Ganapati) sebagai penjaganya, gerbang Barat dijaga oleh Kala dan Amungkala, gerbang Selatan dijaga oleh Resi Agastya, gerbang Utara dijaga oleh Batari Gori (atau Gaurī). Karena letak candi Singasari yang sangat dekat dengan kedua arca tersebut yang terdapat pada jalan menuju ke Gunung Arjuna, penggunaan candi ini diperkirakan tidak terlepas dari keberadaan gunung Arjuna dan para pertapa yang bersemayam di puncak gunung ini pada waktu itu.

Bangunan candi utama dibuat dari batu andesit, menghadap ke barat, berdiri pada alas bujur sangkar berukuran 14 m × 14 m dan tinggi candi 15 m. Candi ini kaya akan ornamen ukiran, arca, dan relief. Di dalam ruang utama terdapat lingga dan yoni. Terdapat pula bilik-bilik lain: di utara (dulu berisi arca Durga yang sudah hilang), timur yang dulu berisi arca Ganesha, serta sisi selatan yang berisi arca Siwa-Guru (Resi Agastya). Di komplek candi ini juga berdiri arca Prajnaparamita, dewi kebijaksanaan, yang sekarang ditempatkan di Museum Nasional Indonesia, Jakarta. Arca-arca lain berada di Institut Tropika Kerajaan, Leiden, Belanda, kecuali arca Agastya.


Lokasi

Candi Hindu – Buddha peninggalan bersejarah dari Kerajaan Singhasari ini berlokasi di desa Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Indonesia, sekitar 10 km dari Kota Malang, di Jalan Kertanegara, No 148. Candi ini berada pada lembah di antara Pegunungan Tengger dan Gunung Arjuna pada ketinggian 512 m di atas permukaan laut.


Harga Tiket dan Jam Oprasional

Tarif masuk lokasi Candi seenarnya gratis. Namun pengunjung biasanya memebrikanuang secara sukarela sebesar Rp 5.000m- pada penjaga candi. Namun walau gratis,setiap pengunjung yang datang diwajibkan mengisi buku tamu.

Candi Singosari dibuka dari jam 07.30 – 16.00 WIB.


Aktivitas Menarik

Ada berbagai kegitan liburan menyenangkan yang bisa dilakukan di area Candi Singosari ini. Beberapa diantaranya meliputi:

1. Hunting Foto

Dalam masa kamera sudah menjadi barang sehari hari dan berfoto sudah menjadi menu wajib. Orang yang berekreasi ke suatu tempat sepertinya wajib untuk membawa kamera. Dengan foto, walaupun tidak membeli souvenir, pengunjung masih punya kenang-kenangan. Bahkan kenangan berupa foto terasa lebih prifat dari pada souvenir yang sering kali adalah produk masal.

Bagi yang suka fotografi outdoor atau luar ruangan, bisa menyalurkan kesukaan untuk mengabadikan momen-momen dan pemandangan yang ada di Candi Singosari. Bentuk candi yang unik dan eksotis sangat pas sebagai latar belakang foto.

Pengunjung juga bisa memfoto relief-relief yang terlihat menghiasi dinding candi. Di area Candi juga ada arca raksasa yang memegang gada bisa dijadikan spot foto berikutnya. Yang jelas pengunjung tidak akan pernah kehabisan ide foto di tempat ini.

2. Arca Dwarapala, Patung Penjaga Terbesar Di Dunia

Arca Dwarapala dalam agama Hindu dilambangkan sebagai patung penjaga candi. Dwara berarti jalan dan Pala berarti penjaga. Jadi, Dwarapala bisa diartikan sebagai penjaga jalan atau pintu gerbang pada candi atau istana. Dwarapala digambarkan sebagai raksasa menyeramkan yang membawa gada, seperti yang terlihat di Candi Singosari.

Keunikan dua arca Dwarapala di Candi Singosari selain karena bentuknya yang sangat besar, juga pose berbeda dari kedua arca. Arca Dwarapala yang ada di selatan menghadap ke utara dengan posisi jongkok. Tangan kanan memegang gada dan tangan kiri memegang lutut. Dwarapala yang ada di utara menghadap ke timur, tangan kanan memberikan kode dua jari dan tangan kiri memegang gada terbalik.

Perbedaan ini konon menyesuaikan tugas masing-masing. Dwarapala dengan kode dua jari memiliki arti mengingatkan rakyat untuk taat beragama.

Kedua arca tersebut menggunakan mahkota dengan ukiran ular dan lambaian tengkorak. Terdapat anting (kundala) bermotif tengkorak pada telinga serta motif yang sama pada kalung (hara) yang ada di leher Dwarapala. Hiasan lain yaitu terdapat selempang/tali kasta (upavita) yang menyilang dengan hiasan ular. Dwarapala ini juga menggunakan kelat bahu (keyura), gelang tangan (kankana) dan juga gelang kaki.

3. Candi Yang Setengah Jadi

Hal lain yang menarik untuk diamati pada Candi Singosari ini adalah hiasan candi. Umumnya bangunan candi di hias dengan hiasan yang rata pada seluruh badan atau bagian candi. Pada Candi Singosari kita tidak mendapatkan hal yang demikian.

Hiasan Candi Singosari tidak seluruhnya diselesaikan. Kuat dugaan bahwa Candi Singosari dahulu belum selesai dikerjakan tapi kemudian ditinggalkan. Sebab-sebab ditinggalkan tersebut dihubungkan dengan dengan adanya peperangan. Yakni serangan dari Jayakatwang dari kerajaan Gelang-gelang terhadap kerajaan Singhasari yang terjadi pada sekitar tahun 1292. Serangan raja Jayakatwang tersebut dapat menghancurkan kerajaan Singhasari. Raja Kertanegara beserta pengikutnya dibunuh.

Diduga karena masa kehancuran (pralaya) kerajaan Singhasari itulah, maka Candi Singosari tidak terselesaikan dan akhirnya terbengkalai.

Ketidak selesaian bangunan candi ini bermanfaat juga bagi kita yang ingin mengetahui teknik pembuatan ornamen (hiasan) candi. Tampak bahwa hiasan itu dikerjakan dari atas ke bawah. Bagian atas dikerjakan dengan sempurna, bagian tubuh candi (tengah) sebagian sudah selesai sedangkan bagian bawah sama sekali belum diselesaikan.

4. Arca Arca Berserakan

Di halaman Candi Singosari terdapat beberapa arca yang tampak berserakan. B eberapa diantaranya berupa tubuh dewa/dewi meskipun bisa dibilang tidak utuh lagi. Bahkan terdapat satu arca Dewi Parwati yang memiliki bagian kepala yang terlihat “aneh”.

Nampaknya bagian tersebut bukan merupakan kepala arca yang sebenarnya. Kepala arca yang sebenarnya diduga putus dan tidak ditemukan kembali.

Terdapat pula Arca Rsi Agastya. Sebenarnya terdapat banyak arca arca yang utuh dan bernilai seni tinggi di lokasi ini, Namun zaman kolonial, sebagain besar arca terbagus diambil dan sekarang tersimpan di Institut Tropika Kerajaan, Leiden, Belanda.


Wonderful Indonesia