GUNUNG MERAPI

Tentang Gunung Merapi

Salah satu wisata yang merupakan salah satu gunung api teraktif di Indonesia. Lereng sisi selatan berada dalam administrasi Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan sisanya berada dalam wilayah Provinsi Jawa Tengah, yaitu Kabupaten Magelang di sisi barat, Kabupaten Boyolali di sisi utara dan timur, serta Kabupaten Klaten di sisi tenggara. Kawasan hutan di sekitar puncaknya menjadi kawasan Taman Nasional Gunung Merapi sejak tahun 2004.

Gunung ini berpotensi kebencanaan yang tinggi karena menurut catatan modern mengalami erupsi setiap dua sampai lima tahun sekali dan dikelilingi oleh permukiman yang padat. Sejak tahun 1548, gunung ini sudah meletus sebanyak 68 kali. Kota Magelang dan Kota Yogyakarta adalah kota besar terdekat, berjarak kurang dari 30 km dari puncaknya. Di lerengnya masih terdapat permukiman sampai ketinggian 1.700 meter dan hanya berjarak empat kilometer dari puncak. Oleh karena tingkat kepentingannya ini, Merapi menjadi salah satu dari enam belas gunung api dunia yang termasuk dalam proyek Gunung Api Dekade Ini (Decade Volcanoes)

Nama "Merapi" berasal dari penyingkatan "meru" (= gunung) dan "api", sehingga nama "merapi" sebenarnya sudah berarti "gunung api". Dalam naskah lama, Merapi pernah dikenal sebagai Mandrageni.


Sejarah

Gunung ini adalah gunung termuda dalam rangkaian gunung berapi yang mengarah ke selatan dari Gunung Ungaran, Gunung Merbabu, dan Gunung Merapi. Gunung ini terbentuk karena aktivitas di zona subduksi Lempeng Indo-Australia yang bergerak ke bawah Lempeng Eurasia menyebabkan munculnya aktivitas vulkanik di sepanjang bagian tengah Pulau Jawa. Puncak yang sekarang ini tidak ditumbuhi vegetasi karena aktivitas vulkanik yang tinggi. Puncak ini tumbuh di sisi barat daya puncak Batulawang yang lebih tua.

Proses pembentukan Gunung Merapi telah dipelajari dan dipublikasi sejak 1989 dan seterusnya. Pascale-Claire Berthommier membagi perkembangan Merapi dalam empat tahap:Pra-Merapi, Merapi Tua atau Merapi Purba, Merapi Pertengahan, dan Merapi Baru (Modern).

Tahap aktivitas Pra-Merapi diperkirakan berlangsung 700.000 sampai 400.000 tahun yang lalu. Periode ini menyisakan jejak Gunung Bibi (2.025 meter) yang bagiannya masih dapat dilihat di sisi timur puncak Merapi. Gunung Bibi memiliki lava yang bersifat basaltik andesit.

Tahap Merapi Tua terjadi ketika badan dasar Merapi mulai terbentuk namun belum berbentuk kerucut. Masa ini kira-kira berlangsung 60.000 – 8000 tahun lalu. Sisa-sisa aktivitas tahap ini adalah Bukit Turgo dan Bukit Plawangan di bagian selatan, yang terbentuk dari lava basaltik.

Tahap aktivitas selanjutnya, Merapi Pertengahan, berlangsung 8.000 – 2.000 tahun lalu. Tahap ini ditandai dengan terbentuknya kerucut-kerucut tinggi, yang sekarang disebut Bukit Gajahmungkur dan Batulawang, terletak di lereng utara, yang tersusun dari lava andesit. Proses pembentukan pada masa ini ditandai dengan aliran lava, breksiasi lava, dan awan panas. Aktivitas Merapi telah bersifat eryupsi efusif (lelehan) dan eksplosif. Diperkirakan juga terjadi letusan eksplosif dengan runtuhan material ke arah barat yang meninggalkan morfologi tapal kuda dengan panjang 7 km, lebar 1–2 km dengan beberapa bukit di lereng barat. Kawah Pasarbubrah (di lereng sisi utara) diperkirakan terbentuk pada masa ini. Puncak Merapi yang sekarang, Puncak Anyar ("baru"), mulai terbentuk sekitar 2.000 tahun yang lalu. Dalam perkembangannya, diketahui terjadi beberapa kali letusan eksplosif dengan VEI 4 berdasarkan pengamatan lapisan tefra.

Periode Merapi Baru (2000 tahun lalu s.d sekarang) adalah yang masih berlangsung. Pada tahap ini terbentuk kerucut puncak Merapi modern (Gunung/Puncak Anyar) di bekas kawah Pasarbubrah; proses dimulai sekitar 2000 tahun yang lalu. Tahap ini sangat aktif dan berkali-kali mempengaruhi perubahan peradaban penduduk yang tinggal di sekitarnya. Karakteristik letusan sejak 1953 adalah desakan lava ke puncak kawah disertai dengan keruntuhan kubah lava secara periodik dan pelepasan awan panas (nuée ardente) yang biasanya meluncur di lereng gunung tetapi dapat pula menyembur vertikal ke atas. Letusan tipe Merapi ini secara umum tidak mengeluarkan suara ledakan tetapi desisan. Kubah puncak yang ada sampai 2010 adalah hasil proses yang berlangsung sejak letusan gas 1969.Kubah ini runtuh pada letusan 2010, menimbulkan bukaan ke arah tenggara (lembah Kali Gendol dan Kali Woro).

Pakar geologi pada tahun 2006 mendeteksi adanya ruang raksasa di bawah Merapi berisi material seperti lumpur yang "secara signifikan menghambat gelombang getaran gempa bumi". Para ilmuwan memperkirakan material itu adalah magma.[5] Kantung magma ini merupakan bagian dari formasi yang terbentuk akibat menghunjamnya Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia


Catatan Erupsi

Sejak tahun 1768, sudah tercatat lebih dari 80 kali letusan terjadi di gunung ini. Di antara letusan tersebut, merupakan letusan besar (VEI ≥ 3) yaitu periode abad XIX (letusan tahun 1768, 1822, 1849, 1872) dan periode abad XX yaitu 1930-1931. Erupsi abad XIX intensitas letusannya relatif lebih besar, sedangkan letusan abad XX frekuensinya lebih sering. Kemungkinan letusan besar terjadi sekali dalam 100 tahun. Erupsi abad ke-19 jauh lebih besar dari letusan abad XX, di mana awan panas mencapai 20 kilometer dari puncak. Aktivitas Merapi pada abad XX terjadi minimal 28 kali letusan, di mana letusan terbesar terjadi pada tahun 1931. Sudah tiga perempat abad tidak terjadi letusan besar

Letusan gunung Merapi pada bulan November 1994 dari luar angkasa, letusan besar bisa bersifat eksplosif dan jangkauan awan panas mencapai 15 kilometer. Letusan gunung ini sejak 1872-1931 mengarah ke barat-barat laut. Namun, sejak letusan besar 1930-1931, arah letusan dominan ke barat daya sampai dengan letusan 2001. Kecuali pada letusan 1994, terjadi penyimpangan ke arah selatan yaitu ke hulu Kali Boyong, terletak antara bukit Turgo dan Plawangan. Erupsi terakhir pada 2006, terjadi perubahan arah dari barat daya ke arah tenggara, dengan membentuk bukaan kawah yang mengarah ke Kali Gendol.

Aktivitas Merapi pada tahun 2003. Letusan-letusan kecil terjadi tiap 2-3 tahun, dan yang lebih besar sekitar 10-15 tahun sekali. Letusan-letusan Merapi yang dampaknya besar tercatat pada tahun 1006 (dugaan), 1786, 1822, 1872, dan 1930. Letusan pada tahun 1006 membuat seluruh bagian tengah Pulau Jawa diselubungi abu, berdasarkan pengamatan timbunan debu vulkanik.[8] Ahli geologi Belanda, Rein van Bemmelen, berteori bahwa letusan tersebutlah yang menyebabkan pusat Kerajaan Medang (Mataram Kuno) harus berpindah ke Jawa Timur. Letusan pada tahun 1872 dianggap sebagai letusan terkuat dalam catatan era modern geologi dengan skala VEI mencapai 3 sampai 4. Letusan besar terbaru, 2010, diperkirakan juga memiliki kekuatan yang mendekati atau sama. Letusan tahun 1930, yang menghancurkan tiga belas desa dan menewaskan 1400 orang, merupakan letusan dengan catatan korban terbesar hingga sekarang.

Letusan bulan November 1994, menyebabkan luncuran awan panas ke bawah hingga menjangkau beberapa desa dan memakan korban 60 jiwa manusia.

Letusan pada 19 Juli 1998 cukup besar namun mengarah ke atas sehingga tidak memakan korban jiwa.

Pada tahun 2001 sampai 2003, tercatat aktivitas tinggi yang berlangsung terus-menerus.

Pada tahun 2006, Gunung Merapi kembali beraktivitas tinggi dan sempat menelan dua nyawa sukarelawan di kawasan Kaliadem karena terkena terjangan awan panas meskipun keduanya berlindung di dalam bunker bawah tanah.

Semua catatan ini membentuk apa yang disebut sebagai letusan "tipe Merapi", yaitu aktivitas tinggi yang cukup lama disertai dengan hembusan wedhus gèmbèl—istilah dari awan panas (bahasa Jawa untuk domba yang berbulu lebat)—berulang-ulang yang biasanya ke arah bawah, sehingga membahayakan warga di lereng gunung tersebut.

Rangkaian letusan pada bulan Oktober dan November 2010 dievaluasi sebagai yang terbesar sejak letusan 1872 dan memakan korban nyawa 273 orang (per 17 November 2010), meskipun telah diberlakukan pengamatan yang intensif dan manajemen pengungsian yang cukup tertata. Letusan 2010 juga teramati sebagai penyimpangan dari letusan "tipe Merapi" karena bersifat eksplosif disertai suara ledakan dan gemuruh yang terdengar hingga jarak 20–30 km.

Karena potensi bahayanya, gunung ini dimonitor tanpa jeda oleh Pusat Pengamatan Gunung Merapi di Kota Yogyakarta melalui lima (hingga 2019) pos pengamatan visual dan pencatat kegempaan (Pengamatan Gunung Merapi, PGM) dan berbagai instrumen geofisika telemetri yang sensornya ditempatkan di sekitar gunung dan titik-titik jauh sebagai pembanding aktivitas vulkanik dengan tektonik.

Lima pos PGM yang digunakan adalah

• Kaliurang (sisi selatan; Desa Hargobinangun, Pakem, Sleman; menggantikan Pos Plawangan yang ditutup sejak 2006)

• Ngepos (sisi barat daya; Kec. Srumbung, Magelang )

• Babadan (sisi barat laut; Desa Krinjing, Dukun, Magelang )

• Jrakah (sisi utara–barat laut; Desa Jrakah, Selo, Boyolali )

• Selo (sisi utara; Desa Selo , Kecamatan Selo, Boyolali )

• Selain lima pos tersebut, terdapat pos pemantauan di Desa Balerante, Kemalang, Klaten (dusun Gondang, sisi tenggara) yang didirikan oleh BPBD Jawa Tengah. Pos PGM ini dilengkapi dengan seismometer, CCTV, dan berbagai instrumen pengukur fisik gunung.

Seismometer telemetrik untuk aktivitas vulkanik ditempatkan di delapan titik di sekitar puncak gunung, yaitu di Juranggrawah (GRA), Klatakan (KLS),Pasarbubrah (PAS),Pusunglondon (PUS), Labuhan (LAB),Jurangjero (JRO), Deles (DEL), dan Plawangan (PLA). Seismometer telemetrik untuk aktivitas tektonik ditempatkan di Imogiri (IMO), Pacitan (PCJI), Wanagama (UGM), Bungbulang (BBJI), dan Jajag (JAGI). Aktivitas tinggi di titik pengukur vulkanik jika tidak disertai aktivitas tinggi di titik pengukur tektonik menandakan adanya aktivitas kegempaan vulkanik oleh Merapi.

Sisi timur gunung ini tidak diamati karena dianggap relatif aman akibat adanya punggungan Puncak Bibi yang terbentuk di era pra-Merapi.


Vegetasi

Gunung Merapi di bagian puncak tidak pernah ditumbuhi vegetasi karena aktivitas yang tinggi. Jenis tumbuhan di bagian teratas bertipe alpina khas pegunungan Jawa, seperti Rhododendron dan edelweis jawa. Agak ke bawah terdapat hutan bambu dan tetumbuhan pegunungan tropika. Hutan hujan tropis pegunungan di lereng selatan Merapi merupakan tempat salah satu forma anggrek endemik Vanda tricolor 'Merapi' yang langka.

Lereng Merapi sisi barat daya, khususnya di bawah 1.000 m, merupakan tempat asal dua kultivar salak unggul nasional, yaitu salak 'Pondoh' dan 'Nglumut'.


Rute Pendakian

Gunung Merapi merupakan objek pendakian yang populer. karena gunung ini merupakan gunung yang sangat mempesona. Jalur pendakian yang paling umum dan dekat adalah melalui sisi utara dari Sélo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, tepatnya di Desa Plalangan, Selo, Boyolali, Desa ini terletak di antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Pendakian melalui Selo memakan waktu sekitar 4-5 jam hingga ke puncak.

Jalur populer lain adalah melalui Kaliurang, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Yogyakarta di sisi selatan. Jalur ini lebih terjal dan memakan waktu sekitar 6-7 jam hingga ke puncak. Jalur alternatif yang lain adalah melalui sisi barat laut, dimulai dari Sawangan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah dan melalui sisi tenggara, dari arah Deles, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.


Aktivitas yang bisa di lakukan

Dengan luas 6.410 hektare, banyak kegiatan yang bisa dilakukan wisatawan di sini. Di kawasan Merapi terdapat beberapa Objek wisata yang bisa dikunjungi oleh wisatawan. Wisatawan yang berkunjung ke daerah merapi tinggal memilih jenis wisata apa yang disukai. Jika dikategorikan wisata merapi dibagi menjadi beberapat kategori. kategori wisata petualangan, fotografi, dan edukasi. Berikut beberapa tempat wisata di daerah Merapi.

• Lava Tour

Lava Tour merupakan kegiatan menjelajahi area merapi dengan menggunakan Jeep. Para wisatawan bisa menyewa jeep ini dengan kisaran harga 350 hingga 600 ribu. Harga tersebut tergantung dengan paket yang dipilih bisa paket pendek atau panjang. Setelah memilih paket, petualangan bisa dimulai. Wisatawan akan diajak berkeliling kawasan merapi dan transit di beberapa kawasan menarik.

• Batu Alien

Kawasan ini biasanya termasuk ke dalam paket Lava Tour. Wisatawan bisa melihat lukisan alam gunung Merapi dengan jelas dari titik ini. Selain itu, wisatawan dapat menikmati pemandangan yang luar biasa. Para wisatawan juga bisa berfoto di kawasan ini. Terdapat beberapa sudut foto yang menarik di sini. Diantaranya sudut foto berlatar gunung Merapi, berfoto bersama burung hantu, dan tentunya berfoto dengan batu alien.

• Bunker Kaliadem Merapi

Bunker Kaliadem adalah tempat yang wajib dikunjungi jika kita pergi ke Merapi. Bunker ini menjadi saksi bisu keganasan wedus gembel atau awan panas saat menerjang kawasan ini. Di tempat ini wisatawan bisa menikmati sejuknya udara pegunungan dan melihat kota Yogyakarta dari ketinggian. Di tempat ini juga terdapat banyak sudut foto menarik yang tidak bisa dilewatkan begitu saja.

• Museum Sisa Hartaku

Museum ini merupakan saksi bisu keganasan Merapi saat erupsi tahun 2010. Tidak ada koleksi berharga di sini, yang ada hanya benda-benda rusak akibat terjangan awan panas gunung Merapi. Beberapa dokumentasi keganasan Merapi di tahun 2010 juga bisa dilihat di sini. Yang unik di sini adalah sebuah jam dinding yang berhenti tepat pada pukul 12.15. Apakah waktu itu menunjukkan saat awan panas menerjang?

• Museum Merapi

Berbeda dengan museum Omahku, Museum Merapi ini merupakan sarana edukasi kegunungapian khususnya Merapi. Informasi-informasi mengenai bencana geologi yang lainnya juga bisa didapatkan di sini. Museum ini cocok dikunjungi oleh pelajar karena Informasi yang terdapat di museum ini bersifat rekreatif dan edukatif. Museum ini terletak di jalan boyong dusun banteng Desa hargobinangun Kecamatan Pakem Kabupaten Sleman.

• Stonehenge Merapi

Kawasan ini memang paling baru dan sedang populer di Yogyakarta. Kawasan ini merupakan replika Stonehenge yang berada di Inggris. Dengan susunan batu yang bertumpuk rapi mirip Stonehenge yang asli, para wisatawan bisa berfoto di sini. Untuk memasuki tempat ini, wisatawan harus membayar tiket masuk sepuluh ribu rupiah. Tempat wisata ini buka setiap hari pukul 07.00 s/d 18.00 wib.


Harga Tiket dan Jam Buka

Untuk ke tempat-tempat wisata tersebut bisa menggunakan Tour Jeep atau menyewa motor trai. Harga untuk masing-masing paket tour bervariasi tergantung tempat yang dikunjungi dan duras.

Tiket & Sewa Tour

Tiket Kaliadem Rp5.000

Jeep (max. 4 penumpang ) Rp350.000 – Rp600.000

Sewa Motor Trail Rp50.000 – Rp250.000

Dan Atraksi di desa Kinorejo buka 24 jam. Pengunjung bisa berkemah, mengunjungi museum atau melihat matahari terbit. Waktu yang paling bagus untuk melihat matahari terbit di Merapi sebelum pukul 08.00 pagi. Sedangkan untuk Tour Jeep dan rental sampai pukul 16.00 WIB.


Tips Berwisata ke Gunung Merapi

Kondisi fisik wisatawan harus prima untuk menikmati penjelajahan dan menyingkap rahasia-rahasia yang tersembunyi di Merapi. Wisatawan dianjurkan membawa baju hangat agar suhu tubuh terjaga selama tour. Jika wisatawan menggunakan jasa Lava Tour, para wisatawan diharapkan menjaga gadgetnya baik-baik. Karena perjalanannya tidak semulus di jalanan kota, banyak gundukan tanah. Namun, ketegangan itulah yang membuat adrenalin wisatawan terpacu kencang.

Persiapkan uang tunai yang cukup, karena di kawasan ini tidak terlalu banyak ditemukan mesin atm. Selain itu, pastikan baterai gadget dan power bank terisi penuh. Kemudian pilih operator selular yang bisa menjangkau kawasan merapi. Beberapa operator tidak memiliki sinyal kuat di daerah merapi.


Mitos dan Larangan

1. Erupsi Merapi adalah Amarah Penjaganya

Menurut cerita sejarah, gunung api ini dulunya bernama Jamurdipa dan berlokasi di Laut Selatan Jawa. Suatu ketika, para dewa menginginkan Jamurdipa dipindahkan ke tengah sebagai penyeimbang. Namun saat itu, penjaga Jamurdipa yakni kakak beradik pengrajin keris belum menyelesaikan pekerjaannya dan meminta waktu kepada dewa. Akan tetapi, dewa justru menolaknya.

Penolakan tersebut menyulut amarah kedua penjaga tersebut. Mereka mengancam akan memunculkan petaka abadi di Gunung Merapi. Salah satunya berbntu magma Merapi yang terus memanas hingga sekarang. Oleh karenanya, banyak masyarakat yang meyakini bahwa erupsi Gunung Merapi berkaitan dengan amarah kedua penjaga tersebut yang abadi hingga sekarang.

Di samping itu, erupsi Gunung Merapi juga diyakini sebagai tuntutan kesetiaan dan pengorbana seorang penguasa kepada rakyatnya. Rakyat harus rela menyerahkan jiwa raga seperti yang dilakukan mantan juru kunci Gunung Merapi, Mbah Marijan, yang meninggal dunia ketika Gunung Merapi meletus pada 2010 silam.

2. Ada Keraton di Gunung Merapi

Melansir informasi dari Museum Gunungapi Merapi, gunung yang berada di 4 wilayah kabupaten sekaligus yaitu Magelang, Sleman, Klaten dan Boyolali itu memiliki tempat yang angker dan sakral. Tempat yang paling angker di Gunung Merapi adalah kawah Merapi yang disebut sebagai istana dan pusat keraton makhluk halus Gunung Merapi.

Masyarakat sekitar lereng Gunung Merapi kerap mendengar dan melihat keraton dan bala tentaranya serta rajanya melalui mimpi dan suara. Bahkan mereka juga percaya ketika meninggal dunia, masyarakat lereng Gunung Merapi akan menjadi prajurit atau penduduk yang mengelola lahan pertanian milik Keraton Merapi.

3. Pintu Gerbang Keraton Merapi yang bernama Gunung Wutoh

Tak hanya itu. Bagian dari keraton makhluk halus Merapi yang dianggap angker lainnya adalah Gunung Wutoh yang digunakan sebagai pintu gerbang utama Keraton Merapi.

Gunung Wutoh dijaga oleh makhluk halus yaitu “Nyai Gadung Melati” yang bertugas melindungi linkungan di daerah gunungnya termasuk tanaman serta hewan.

Selain tempat yang berhubungan langsung dengan Keraton Merapi ada juga tempat lain yang dianggap angker. Daerah sekitar makam Sjech Djumadil Qubro merupakan tempat angker karena makamnya adalah makam untuk nenek moyang penduduk dan harus dihormati.

4. Ada Pasar Gaib 'Bubrah'

Selain keraton merapi, ada lagi tempat angker yang berada di bawah puncak Gunung Merapi berisi batuan dan pasir yang bernama “Pasar Bubrah”. Oleh masyarakat sekitar, pasar gaib itu dipercaya sebagai tempat yang sangat angker. 'Pasar Bubrah' tersebut dipercaya sebagai pasar besar Keraton Merapi dan batu besar yang berserakan di daerah itu dianggap sebagai warung dan meja kursi makhluk halus.

5. Cerita Bunker Angker

Konon katanya, pernah ada seorang wisatawan yang mengikuti lava tour dan perlahan menghampiri bunker. Bunker tersebut memiliki tangga menurun ke arah pintu. Wisatawan tersebut kemudian turun dan menengok situasi di dalam bunker yang gelap dan mendorong pintu besi bunker yang berat. Ternyata di dalamnya ada satu ruangan lapang seukuran ruang kelas di dalam bunker. Bentuk ruangannya setengah lingkaran, dengan bekas lahar panas yang telah membatu di tengah bunker.

Tak ada sumber penerangan. Yang ada hanyalah cahaya dari pintu masuk bunker. Nah, setelah wisatawan tersebut beranjak keluar dari bunker. Tiba-tiba ada suara menangis dari bunker.

6. Banyak Tempat yang Dianggap Angker

Tempat-tempat lain seperti di hutan, sumber air, petilasan, sungai dan jurang juga dianggap angker. Beberapa hutan yang dianggap angker yaitu “Hutan Patuk Alap-alap”. Hutan tersebut digunakan untuk tempat penggembalaan ternak milik Keraton Merapi. Lalu ada juga 'Hutan Gamelan dan Bingungan', 'Hutan Pijen dan Blumbang', Bukit Turgo, Plawangan, Telaga putri, Muncar, Goa Jepang, Umbul Temanten, Bebeng, Ringin Putih dan Watu Gajah.

7. Binatang Keramat Tak Boleh Ditangkap

Selain itu, beberapa jenis binatang keramat juga tinggal di hutan sekeliling Gunung Merapi dimiliki oleh Eyang Merapi. Binatang hutan, terutama macan putih yang tinggal di hutan Blumbang, pantang ditangkap atau dibunuh. Begitu juga dengan kuda yang tinggal di hutan Patuk Alap-alap, di sekitar Gunung Wutoh, dan di antara Gunung Selokopo Ngisor dan Gunung Gajah Mungkur diyakini dipakai oleh rakyat Keraton makhluk halus Merapi sebagai binatang tunggangan dan penarik kereta.


Wonderful Indonesia