GOA GAJAH

Tentang Goa Gajah

Salah satu wisata yang mempunyai nama lain Lwa Gajah, bersama Badahulu, pertama kali disebut dalam karya sastra Kakawin Nagarakretagama yang disusun oleh Mpu Prapanca (1365 M). Nama tersebut tercantum dalam pupuh 14/3 yang menguraikan wilayah-wilayah di sebelah timur Jawa, yang mengakui kekuasaan Majapahit. Lwa atau Lwah/Loh berarti sungai, sehingga Lwa Gajah mengandung arti Sungai Gajah; kemungkinan sungai yang terletak di depan candi yang sekarang dikenal dengan nama Sungai Petanu.

Sebutan Gua Gajah mungkin berasal dari pahatan wajah raksasa di atas mulut gua, yang dianggap menyerupai muka gajah. Sumber lain menyebutkan bahwa nama itu disebabkan oleh adanya arca Ganesha, dewa berkepala gajah, di salah satu ceruk dalam gua


Sejarah

Penemuan Gua Gajah berawal dari laporan pejabat Hindia Belanda, LC. Heyting pada tahun 1923 yang menemukan arca Ganesha, Trilingga serta arca Hariti kepada pemerintah Hindia Belanda. Hal tersebut ditindak lanjuti oleh Dr. WF. Stutterheim untuk mengadakan penelitian lanjut pada tahun 1925. Pada tahun 1950 Dinas Purbakala RI melalui seksi-seksi bangunan purbakala di Bali yang dipimpin oleh J.L Krijgman melakukan penelitian dan penggalian pada tahun 1954 sampai tahun 1979 dan ditemukanlah tempat petirtaan kuno dengan 6 buah patung wanita (bidadari) dengan pancuran air di dada dan sampai sekarang keberadaannya bisa dipercaya bisa memberikan vibrasi penyucian aura bagi pengunjung.

Pada tahun 1931 Mr. Conrat Spies menemukan pula peninggalan yang cukup penting di komplek Tukad Pangkung berupa stupa bercabang tiga yang terpahat pada dinding batu yang telah runtuh tergeletak di dasar Tukad Pangkung.

Sejak tahun 1950 setelah Badan Purbakala Republik Indonesia membuka kantor seksi bangunan cabang Bali yang berkedudukan di Gianyar di bawah pimpinan J.C. Krijgsman, penelitian terhadap peninggalan purbakala di Gua Gajah mendapat perhatian secara khusus. Hal ini dibuktikan pada tahun 1951/1952 dengan diadakan penggalian di pelataran depan mulut gua. Dari penggalian itu ditemukan fondasi kuno berbentuk persegi panjang, di mana dinding muka gua sebagai salah satu sisi panjangnya.

Pada tahun itu ditemukan pula retakan pada langit-langit gua sebagai akibat dari akar-akar pohon kamboja yang tumbuh di atas tebing sebelah kanan mulut gua. Sewaktu dilakukan pembersihan tanah dan akar dibagian barat gua ditemukan dua buah pecahan batu, pecahan pertama merupakan bagian atas kepala raksasa di atas lubang gua, pecahan kedua merupakan bagian berukir dari tembok sebelah timur. Disamping itu ditemukan pula sebuah pedang dari batu padas yang merupakan bagian dari arca raksasa di depan gua.


Bentuk dan Arkeologi

Kompleks Gua Gajah terdiri atas 2 bagian utama, yaitu kompleks bagian utara merupakan warisan ajaran Siwa, dengan bukti adanya Trilingga dan patung Ganesha di dalam gua, merupakan tempat umat Hindu melakukan persembahyangan. Komplek sebelah selatan Gua Gajah yakni area Tukad Pangkung, berupa reruntuhan stupa Buddha berbentuk payung bersusun 13 dan stupa bercabang 3 yang dipahat di batu besar.

• Bagian utara

Kompleks bagian utara berpusat pada sebuah candi-gua yang dikenal sebagai Gua Gajah. Gua ini dipahatkan pada batu padas keras yang menjorok keluar sejauh 5,75 meter dari dinding batu tersebut, berukuran tinggi 6,75 meter dan lebar 8,6 meter. Permukaan gua menghadap ke arah selatan, berhiaskan motif daun-daunan, batu karang, raksasa, kera, dan babi. Di tengah-tengah relief tersebut terdapat lubang mulut gua dengan ukuran lebar 1 meter dan tinggi 2 meter. Di ambang mulut gua terdapat pahatan muka raksasa yang menyeramkan dengan mata bulat besar melirik ke arah kanan; rambut dan alisnya tampak kasar, hidung besar, bibir atas dengan sederetan gigi tepat berada di atas lubang gua. Pada dinding timur gua terdapat dua baris tulisan berbunyi kumon dan baris bawah sahy(w)angsa; yang menilik bentuk hurufnya diduga berasal dari abad ke-11.

Lorong dalam gua berbentuk seperti huruf T. Setelah masuk beberapa meter ke utara, terdapat lorong yang melintang pada arah barat-timur. Lorong yang membentang dari timur-barat itu berukuran panjang 13.5 meter, lebar 2.75 meter dan tinggi 2 meter. Pada dinding utara dari lorong yang melintang itu terdapat 7 buah ceruk, salah satu ceruk itu berhadapan dengan jalan masuk gua dan merupakan ceruk yang terbesar dengan ukuran tinggi 1,26 meter, kedalaman 1,35 meter, terletak 0,7 meter dari permukaan tanah. Di dalamnya terdapat fragmen arca raksasa dan fragmen arca Siwa. Pada kedua ujung lorong yang melintang itu juga terdapat ceruk. Ceruk di ujung timur berisi trilingga dan ceruk di ujung barat berisi arca Ganesha.

Di depan Gua Gajah terdapat beberapa arca kuno yang menggambarkan Hariti, Ganesha, dan raksasa. Tokoh Hariti (bahasa Avesta Harauhuti) dalam dongeng agama Buddha dikenal sebagai tokoh yang berkarakter jahat dan senang memangsa anak-anak; akan tetapi setelah belajar agama Buddha ia berubah menjadi penyayang anak-anak. Patung tersebut melukiskan Hariti bersama masing-masing tiga anak di sebelah kanan dan kirinya dan satu anak di pangkuannya. Dalam dongeng-dongeng Bali, Hariti lebih dikenal sebagai Men Brayut (atau Nini Brayut dalam tradisi Jawa).

Satu kompleks pemandian atau petirtaan terdapat di muka Gua Gajah, agak ke sebelah bawah. Pemandian ini tersusun dari tiga kolam pemandian suci yang berjajar utara-selatan, dengan enam (seharusnya tujuh) arca berpancuran di tepinya. Masing-masing pasangan arca terdiri dari satu arca bidadara diapit oleh dua arca bidadari, tegak menghadap satu kolam besar. Arca di tepi kolam yang tengah telah hilang atau belum ditemukan, kemungkinan adalah arca Ganesha berpancuran yang didapati menghias pinggir mulut gua. Semula ditemukan dalam keadaan berantakan dan tertimbun oleh tanah, bahkan juga oleh bangunan baru, pemandian ini kemudian berhasil digali dan direkonstruksi kembali pada tahun 1954 atas jasa J.L. Krijgman, ketika itu Kepala Kantor Purbakala di Bali.

Arca-arca bidadari dan bidadara ini berdiri di atas lapik teratai atau padma. Padma adalah simbol alam semesta stana Hyang Widhi. Sedangkan di tengahnya terletak arca widyadara. Hal ini berdasarkan konsep Sapta Nadi yaitu tujuh sungai suci Gangga, Sindhu, Saraswati, Yamuna, Godawari, Serayu dan Narmada.

• Bagian selatan

Sedikit jauh dari kompleks bagian utara, terdapat kompleks bagian selatan yang terletak di suatu jurang atau lembah yang dikenal sebagai Tukad Pangkung. Area ini berbentuk lembah pura Patapan, dan di sini tersimpan arca Buddha. Di lembah ini terdapat peninggalan kuno berupa suatu relief besar yang telah runtuh ke dasar lembah, yang kemungkinan dahulunya adalah bagian dari suatu candi-tebing.

Relief besar yang terpahat di batu itu terdiri atas beberapa bagian. Yang pertama berbentuk suatu fragmen stupa bercabang tiga, dengan puncak-puncaknya yang berupa payung bersusun. Di sebelahnya terdapat fragmen stupa yang lain lagi, dengan satu puncak payung bersusun. Dan di atas kedua relief itu terlihat bagian bawah dari suatu arca Buddha. Sementara itu tidak berapa jauh, terdapat pula runtuhan fragmen relief berbentuk payung bersusun 13, yang mungkin dahulunya merupakan puncak stupa seperti relief yang lainnya. Melihat bentuknya, relief-relief ini diperkirakan usianya jauh lebih tua daripada Gua Gajah di bagian utara tadi; mungkin berasal dari awal abad ke-10.


Lokasi

Pura Goa Gajah terletak di Desa Bedulu, kecamatan Blahbatuh kabupaten Gianyar. Jarak nya sekitar 26 Km dari Denpasar atau 40 Km dari Kuta, 5 Km dari Ubud. Lokasi ini mudah dijangkau karena berada di jalur utama Denpasar – Tampaksiring.

Berada di aliran sungai Petanu dengan hamparan sawah yang indah. Lokasi tepatnya adalah di tepi jurang dan merupakan pertemuan dari sungai kecil di desa tersebut.


Harga Tiket

Pengunjung dikenakan tarif masuk sebesar Rp 30.000,00 per orang. Ada pula tambahan biaya parkir yang dipatok dengan tarif Rp 5.000,00 untuk mobil dan Rp 2.000,00 untuk sepeda motor.


Jam Oprasional

Loket kunjungan untuk wisatawan di buka setiap hari, mulai buka dari pukul 08.00 – 17.00. Namun secara faktual lokasi wisata ini buka 24 jam. Hal ini dikarenakan selain lokasi wisata, objek ini adalah situs yang hidup. Hidup dalam artian masih berfungsi sebagai tempat suci untuk persembahyangan bagi umat Hindu dan Budha.

Sesuai fungsi ini, maka sangat mungkin akan ada kegiatan keagamaan yang memang harus dilakukan pada alam hari. Dengan alasan inilah lokasi ini akhirnya terbuka 24 jam.


Fasilitas

Sebagai sebuah destinasi wisata yang cukup populer dan banyak dikunjungi wisatawan dalam dan luar negeri, di kawasan ini pun telah disediakan beberapa fasilitas pendukung. Fasilitas yang didesain untuk bisa memberikan kenyamanan dan keseruan bagi pengunjung yang berwisata di sini.

Selain tempat parkir dan toilet, di kawasan Goa Gajah pun terdapat toko atau kios souvenir dari warga sekitar. Fasilitas wisata lainnya adalah di sini juga terdapat layanan berfoto yang unik, yaitu cara berfoto bersama ular piton.


Peninggalan Budaya

Tinggalan budaya yang terdapat di Situs Pura Goa Gajah dikelompokkan menjadi empat komplek, yaitu:

o Di Dalam Goa

Goa dipahatkan pada dinding batu padas keras yang menjorok keluar dari dinding kira-kira 5,75 meter. Tampak depan di bagian atas mulut goa dipenuhi dengan pahatan berupa sulur daun-daunan, batu karang, kera, babi, dan raksasa. Mulut goa diperkirakan memiliki tinggi 2 meter dengan lebar 1 meter.

Pada dinding timur lorong goa terdapat tulisan baris atas berbunyi kumondan baris bawah berbunyi sahy(w)angsa, dilihat dari bentuknya tulisan tersebut diperkirakan berasal dari abad ke-11.

Di dalam goa terdapat ceruk yang berjumlah 15 buah ceruk. Beberapa ceruk di dalam goa terdapat arca yaitu arca Ganesha di ceruk ujung barat, arca Trilingga terletak di ceruk ujung barat lorong yang membentang ke timur dan barat, dan fragmen arca terletak di salah satu ceruk di dinding utara.

o Komplek Kolam Petirtaan

Kolam Petirtaan terletak 11 meter di sebelah selatan goa, petirtaan berada 3 meter di bawah permukaan tanah pelataran pura. Air pada petirtaan ini berasal dari sumber air yang berada 100 meter di sebelah timur goa.

Kolam petirtaan ini ditemukan dan digali oleh Kriygsman pada tahun 1954, ketika menjabat sebagai kepala kantor Purbakala di Bali. Tinggalan arkeologi pada komplek petirtaan ini terdiri dari 3 buah kolam yang masing-masing dipisahkan oleh tembok yang rendah dan terdapat arca pancuran dada yang berjumlah 6 buah.

o Di Depan Goa

Di depan Goa Gajah terdapat beberapa artefak yang dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian. Peninggalan yang ada di kiri kanan mulut goa dan ditempatkan pada sebuah pelinggih di sebelah barat goa.

Tinggalan arkeologi yang terdapat di kiri kanan mulut goa yaitu arca Ganesha pancuran, arca penjaga/Dwarapala, dan batu silinder. Sedangkan tinggalan arkeologi pada bangunan pelinggih di sebelah barat goa yaitu arca raksasa (arca jongkok), arca Ganesha, dan arca Dewi Hariti.

o Komplek Tukad Pangkung

Komplek lembah Tukad Pangkung berlokasi di sebelah selatan kolam Petirtaan ke arah bawah menuju sungai Petanu. Tinggalan arkeologi dilokasi ini menunjukkan tinggalan untuk pemujaan oleh penganut agama Budha pada masa lalu. Peninggalan yang ditemukan berupa fragmen bangunan yang sebelumnya merupakan bagian dari pahatan di dinding/tebing, dan dulunya diperkirakan sebagai candi tebing.

Di sebelah barat fragmen bangunan Tukad Pangkung terdapat sebuah ceruk pertapaan. Bangunan ini ditemukan oleh Mr. Conerat Spies pada tahun 1931. Adapun tinggalan arkeologi berupa fragmen di lokasi ini yaitu relief paying susun tiga belas, relief stupa bercabang tiga, dan fragmen arca Budha.


Harga Tiket

Setiap wisatawan yang liburan ke tempat wisata Goa Gajah Gianyar, diwajibkan untuk membayar tiket masuk. Lalu berapa harga tiket masuk objek wisata Goa Gajah Gianyar Bali? Berikut ini tabel harga tiket masuk objek wisata Goa Gajah Bali.

Kategori Harga Tiket

Tiket Masuk Rp 30.000 / orang

Parkir Mobil Rp 5.000 / mobil

Parkir Motor Rp 2.000 / motor


Keunikan

Objek wisata Goa Gajah disukai wisatawan karena menawarkan banyak keunikan. Lalu apa saja keunikan yang terdapat di objek wisata ini?

• Pintu masuk melalui mulut goa hanya cukup untuk 1 orang.

• Diluar pintu masuk terdapat ukiran dan 2 patung penjaga.

• Bagian dalam goa berbentuk huruf T, dengan tinggi sekitar 2 meter dan lebar 2 meter.

• Bagian kiri dan kanan lorong juga terdapat ceruk yang mungkin pada jaman dahulu adalah tempat bertapa. Namun sekarang wisatawan dapat duduk maupun berbaring disana.

• Pada ujung barat lorong terdapat Arca Ganesha dan ujung timur lorong terdapat 3 lingga.

Selain itu di sekitar areal goa, juga terdapat patung petirtaan dengan tujuh patung widyadara–widyadari yang sedang memegang air suci. Total patungnya ada tujuh, yang merupakan symbol dari tujuh sungai di India, tempat kelahiran agama Hindu dan Budha.


Wonderful Indonesia